Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Oktober 2013

0 Bakteri Bisa Tumbuh Lebih Besar dan Ganas di Luar Angkasa

Berdasarkan penelitian terbaru yang dipublikasikan oleh para ilmuwan, didapatkan fakta bahwa bakteri ternyata bisa tumbuh dan berkembang menjadi lebih besar dan ganas di tempat dengan gaya gravitasi mikro seperti di luar angkasa.

Pada misi Atlantis terdahulu, dilakukan sejumlah percobaan dengan membuat media koloni hidupnya bakteri (biofilm) untuk kemudian dilihat perkembangannya. Ternyata bakteri tumbuh menjadi lebih besar dan lebih tebal. Hal itu tentu sangat membahayakan bila sampai masuk ke dalam tubuh manusia.



Media untuk penelitian bakteri yg dibawa pesawat ulang alik Atlantis.
Image credit: plosone

"Bakteri tumbuh selama penerbangan luar angkasa dan memiliki lebih banyak sel-sel hidup, memiliki biomassa yang lebih banyak, dan juga lebih tebal daripada bakteri yang ada pada kondisi gravitasi normal," ungkap juru bicara NASA dalam sebuah jumpa pers.

Jenis bakteri yang diamati adalah Pseudomonas aeruginosa yang tumbuh cepat selama tiga hari dalam sebuah media urin buatan. Menurut NASA media urin buatan sangat cocok sebagai tempat koloni bakteri terbentuk, baik di dalam atau di luar tubuh manusia dan mengingat itu juga termasuk limbang di pesawat ulang allik, maka media urin buatan dipilih untuk mengatahui sejauh mana efeknya terhadap kesehatan astronot.


Sampel bakteri Pseudomonas aeruginosa. Image credit: google



Hasil penelitian. Image credit: plosone



Hasil penelitian. Image credit: plosone

Setiap media tempat tumbuh bakteri diberi membran selulosa dimana bakteri bisa tumbuh di sana. Metode yang sama juga telah diterapkan pada penelitian di Bumi.

"Ini masih dalam tahap awal penelitian dan memerlukan penelitian lebih lanjut lagi untuk mengetahui bagaimana gaya gravitasi mikro mempengaruhi pertumbuhan bakteri atau mikroorganisme lain," ungkap Cynthia Collins dari Rensselaer Polytechnic Institute.

"Sebelum kita mengirim astronot ke luar angkasa, kita harus meyakinkan dulu bahwa mereka telah disterilisasi dari bakteri dan mikroorganisme lain untuk mengurangi resiko mereka sebagai pembawa dan tempat tumbuhnya bakteri yang dapat menyebar ke astronot lain dan juga peralatan yang ada," tambah Collins.









Sumber :
UT, PS, Adi Saputro / www.astronomi.us

Rabu, 30 Januari 2013

0 Hiu ini Bisa Merasakan Bahaya Sejak Embrio

Hiu bambu (Chiloscyllium punctatum) jenis hiu yang peka itu, hidup di perairan dangkal Pasifik Barat dan bisa tumbuh hingga 1 meter lebih. Tidak seperti jenis hiu lain, induk hiu bambu tidak melahirkan anak mereka, melainkan melepaskan embrio hidup, berupa calon hiu yang masih berselaput membran. Butuh waktu lima bulan untuk hiu keluar dari embrio.

Selama itulah mereka rentan terhadap bahaya predator, ikan besar atau hiu lain yang bisa merasai bau, arus air dan medan listrik yang dihasilkan gerakan sekecil apa pun.

 
 
"Banyak orang berpikir hiu adalah predator alih-alih mangsa," ujar pakar biologi, Stephen Kijura dari Universitas Atlantic, Florida. Tapi bagi embrio hiu yang hanya diam menunggu saat keluar, jelas mereka sasaran empuk.

Dalam penelitian, tim dari Universitas Australia Barat mendemonstrasikan bagaimana kecilnya si bayi hiu yang sering dimangsa hewan lain harus menjaga dirinya sendiri bahkan dalam usia dini mereka.

Satu tim dari universitas mengamati embrio hiu berukuran 4-5 inchi yang siap pecah. Ketika tim memberi sinyal medan listrik menirukan gerakan mendekati si embrio hiu bambu, makhluk tersebut langsung berhenti bergerak. Mereka menggulung ekor ke dekat tubuh dan diam--beberapa embrio bahkan membeku hingga hampir semenit.
 
Aksi diam dan membeku merupakan tipe respons mangsa terhadap predator ketika tidak ada alternatif lain seperti bertarung atau terbang.

Ketika si bayi hiu mempelajari bahwa gelombang elektrik yang sama terjadi berulang kali  tanpa menimbulkan konsekuensi, mereka pun hanya membeku dalam waktu lebih singkat. Itu berarti mereka memahami bahwa lingkungan sekitarnya tidak berbahaya.

Dari perilaku ini, tim menyatakan penelitian ini bisa mengarah pada pengembangan cara menangkal hiu tanpa membahayakan makhluk tersebut. "Butuh investasi penelitian lebih untuk menghasilkan penangkal hiu. Peralatan itu juga bakal beruga mengurangi insiden hiu tertangkap tidak sengaja, menjauhkan mereka dari peralatan penangkapan ikan, sehingga tak perlu ada hiu mati sia-sia.
Sumber: