Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 September 2013

0 Cara Uji Makanan Berbahan Pengawet

Maraknya peredaran makanan berbahan pengawet cukup mengkhawatirkan. Apalagi bagi anak-anak yang suka jajan, hingga pengawasan orang tua semakin ketat.

Sebenarnya ada cara relatif mudah menguji apakah makanan yang Anda konsumsi berbahaya atau tidak. BPOM mengajarkan langkah praktis menguji makanan yang tidak sehat tersebut. Caranya adalah dengan menggunakan alat uji yang disebut Test Kit Boraks, Test Kit Formalin, Test Kit Methanil Yellow, dan Test Kit Rhodamin B.


 
"Test kit ini bisa dibeli di koperasi dan toko kimia kami," ujar staf sertifikasi dan layanan informasi konsumen BPOM, Ratna Dewi Napitupulu, seperti dilansir oleh detik.com.

Menurut Dewi, test kit tersebut dijual dengan kisaran harga Rp 200 ribu. Test kit ini dapat digunakan 40 hingga 50 kali.

Nah, berikut cara mengujinya.

1. tes uji formalin yang terkandung dalam mi kuning. Mula-mula mi tersebut dihancurkan dan dilarutkan dengan air. Air yang digunakan adalah air putih, boleh air masak maupun air mentah.


 
Kemudian, sebanyak 1 mili liter ekstrak mi ini dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Ekstrak ini dicampur dengan pereaksi cair khusus formalin sebanyak lima tetes dan pereaksi bubuk sebanyak satu sendok kecil.

"Tabung ini dikocok-kocok, tunggu selama 5-10 menit. Kalau positif mengandung formalin, hasilnya akan berwarna keunguan," kata Dewi.

2. Tes pewarna makanan berbahaya, Rhodamin B. Kali ini yang menjadi bahan uji adalah kerupuk harum manis.



Seperti uji sebelumya, kerupuk tersebut dilarutkan dengan air, lalu larutkan sebanyak 1 mili liter dituang ke dalam tabung reaksi. Namun untuk uji rhodamin B ini pereaksinya sebanyak 3 jenis. Pereaksi pertama sebanyak 10-20 tetes, pereaksi kedua lima tetes, dan pereaksi ketiga sebanyak 10-20 tetes.

"Dibiarkan 5-10 menit. Kalau mengandung rhodamin B, akan terbentuk semacam cincin berwarna merah muda di permukaan larutan," kata dia.

3. Tes boraks
melakukan uji sampel tahu. Tahu dilarutkan ke dalam air, lalu larutannya dituang ke dalam uji tabung reaksi.



Kemudian larutan tersebut diberi pereaksi, dicampur, dan diuji dengan kertas lakmus. Apabila positif mengandung boraks, kertas lakmus yang berwarna kuning tersebut akan berubah warna menjadi biru tua.






Sumber :
detik.
easy4test.blogspot.com
republika.co.id

0 Cinta Bisa Melumpuhkan Kanker

Kekuatan cinta begitu besar dampaknya pada kehidupan. Berbagai energi positif tampak ketika cinta selalu hadir. Bahkan dari hasil analisa  peneliti di Dana Ferber Cancer Institute (USA),  penderita kanker yang memiliki pasangan mampu bertahan hidup lebih lama dibanding penderita single.

Para peneliti mengajukan kesimpulannya dari hasil data pada lebih 750 ribu pasien kanker sejak tahun 2004-2008. Dan inilah dua butir kesimpulan mereka yang dipublikasikan di situs Journal of Clinical Oncology.
Ilustrasi / cnn.com
 
1. Pasien kanker yang menikah memiliki kemungkinan 17 persen lebih kecil untuk menderita penyakit metastasis Dibandingkan dengan orang yang telah bercerai dan yang masih single.

Sementara itu penderita kanker yang single memiliki 53% kasus kurang berhasil dalam pengobatan karena keterlambatan dalam mencari nasihat medis atau mengabaikan rekomendasi medis. Hal menyebabkan peningkatan jumlah kematian dari 12% menjadi 37% (Tergantung pada jenis kanker)

2. Pasien dengan kanker prostat, kerongkongan, usus, otak, dan kanker leher lebih mungkin untuk pulih, jika mereka hidup dengan suami atau istri mereka, daripada hanya melakukan proses kemoterapi.

Para peneliti mengatakan pasien kanker yang memiliki pasangan menunjukkan keinginan yang lebih besar untuk hidup. Biasanya pasangan juga memonitor kesehatan penderita dan mengikuti resep dokter. Yang tak kalah penting si penderita dikelilingi orang yang disayang dan dirawat dengan penuh cinta.








Sumber :
merdeka

Rabu, 06 Maret 2013

0 Hati-Hati... Mouse & Keyboard Lebih Berkuman dari Toilet

             Kuman, bakteri dan virus ada di mana-mana, termasuk tempat yang terlihat bersih seperti keyboard komputer. Sebuah penelitian bahkan menyebut keyboard yang jorok bisa lebih berkuman dari dudukan toilet.

Fakta ini diungkapkan Anis Karuniawati dari Departement of Microbiology, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Mengutip hasil riset Charles Gerba, mikrobiologis dari University of Arizona, Anis mengatakan kuman yang paling banyak adalah di lantai toilet, keran di wastafel serta wastafel itu sendiri.

Alat-alat tulis dan kantor juga menjadi sarang favorit kuman. Ini termasuk perangkat seperti ponsel, permukaan desktop, keyboard dan mouse. Katakanlah dudukan toilet adalah tempat paling berkuman.

Namun menurut hasil penelitian terhadap 113 permukaan bermacam benda, dikatakan Anis bahwa ponsel, desktop, keyboard dan mouse ternyata lebih berkuman dari dudukan toilet.

"Dudukan toilet mengandung 49 kuman per square inch, berturut-turut di atasnya adalah mouse, keyboard, desktop dan yang terjorok ponsel, 25.127 kuman per square inch," kata Anis saat dimintai keterangan di peluncuran keyboard Logitech K310 di Jakarta, (5/3/2013).

Untuk keyboard sendiri, disebutkan Anis ada 3.295 kuman per square inch berkeliaran di dalamnya. Menurutnya keyboard bisa lebih kotor dari dudukan toilet karena kebanyakan orang justru tidak menyadari kalau keyboard adalah sarang kuman.

"Kalau dudukan toilet kan orang justru sering bersihkan pakai cairan disinfectan. Kalau keyboard orang malah tidak perhatikan. Jarang dibersihkan karena tidak terpikir kalau itu kotor," kata Anis.

Kuman, bakteri, dan virus dapat berpindah dengan menempel pada tangan dan masuk melewati hidung atau mulut manusia. Mungkin terdengar sepele, namun ketika sistem imun tubuh sedang lemah, paparan kuman, bakteri, dan virus bisa menimbulkan berbagai macam penyakit.

Tapi menurut Anis, tidak perlu takut berlebihan akan bakteri. Pasalnya, bakteri ada dimana-mana. Tak semua bakteri jahat, ada pula yang menguntungkan. Lagipula, sistem imun pada tubuh pun pada umumnya siap menangkal bakteri, kuman dan virus jahat.

"Yang jelas tidak ada salahnya melakukan tindakan pencegahan dengan menjaga kebersihan. Misalnya untuk keyboard, semakin sering dan semakin banyak orang pakai keyboard itu, maka sebaiknya lebih sering membersihkan keyboard," tutupnya.