Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Oktober 2013

0 Waspada, 10 Penyebab Kepunahan Massal yang Siap Terjadi

1. Human Cause



Manusia telah menjadi sangat kuat untuk menghindari bahaya alam. Tapi sayangnya dia sendiri telah mengembangkan metode untuk pemusnahan massal. Yang paling jelas adalah perang nuklir. Kita memiliki cukup nuklir di planet untuk memusnahkan semua kehidupan. Tetapi kita dapat berharap bahwa suatu hari kita menjadi cukup aman untuk tidak menggunakan senjata pada skala global.

2. Global Cooling



Seperti digambarkan dalam "The Day after Tomorrow", untuk beberapa waktu bumi akan terlalu dingin dengan sangat cepat, menyebabkan kematian bagi banyak daerah kutub dan sekitarnya. Pada gilirannya akan menyebabkan migrasi besar-besaran ke daerah khatulistiwa. Jika beruntung, di beberapa daerah masih bisa ditemukan sisa-sisa air karena sebagian besar menjadi es dan salju.


3. Global Warming


Ini pada dasarnya sisi lain dari Global Cooling. Pencairan salju dan es akan membuat laut lebih dalam dan kemungkinan menyebabkan Anoxic event..


4. Clathrate Gun


Ini adalah pembentukan Clathrates di Continental Shelf. Clathrate adalah air yang diselimuti methane. Jika methane ini pecah dan melepaskan gas ke atmosfir, maka akan menyebabkan akselerasi Pemanasan Global.


5. Anoxic Events


Peristiwa Anoxic terjadi ketika lautan telah kosong akan oksigen di permukaan. Walaupun anoxic tidak terjadi selama jutaan tahun, catatan geologi menunjukkan bahwa telah terjadi beberapa kali di masa lalu. Anoxic dapat dan telah menyebabkan kepunahan massal. Garis hitam pada gambar di atas adalah jejak dari anoxic event masa lampau.


6. Hydrogen Sulfide Emissions


Hal ini dapat terjadi ketika terganggunya keseimbangan antara plankton dan bakteri yang mengurangi sulfate. Bayangkan emisi hidrogen sulfida tiba-tiba bangkit dari laut meracuni segala sesuatu di darat dan laut. Dan jika itu tidak cukup, dapat juga menghancurkan Ozon.


7. Sea-level Falls


Pada dasarnya, jika permukaan laut turun secara drastis (baik itu melalui Global Cooling atau tenggelam di tengah-tengah laut ridges), dapat mengurangi daerah sekitar Continental Shelf dan menyebabkan semua ikan kecil, hiu, ikan paus dan hampir semua kehidupan di lautan mati. Jika hal tersebut tidak cukup buruk, cuaca dapat berubah secara drastis yang mengarah ke kepunahan massal di daratan.


8. Oceanic Overturn


Oceanic Overturn pada dasarnya naiknya air yang lebih dalam ke atas permukaan. Air di bawah mempunyai sedikit oksigen sehingga berarti laut permukaan akan kekurangan oksigen juga.


9. Gamma Ray Bursts


Ketika bintang telah meledak, sebelum kita dapat menyadarinya, kita dan semua orang di dunia telah mati. Itu adalah Gamma Ray burst. Kita lihat bahwa pada dasarnya Gamma membunuh setiap sel dalam tubuh. Tetapi jika ia lemah hanya setengah dari planet yang meninggal seketika. Namun ozon akan hilang dan akhirnya kepunahan massal akan tetap terjadi.


10. Impact Events


Impact event adalah jatuhnya batu besar dari luar angkasa. Pada dasarnya batu besar ini mengirimkan debu dan aerosol sampai ke atmosfir, menyebabkan tidak hanya tanaman mati, tetapi juga menurunkan suhu. Batu yang besar dapat menyebabkani mega-tsunami dan kebakaran hutan global.


Sumber :
listverse.com

0 Bakteri Bisa Tumbuh Lebih Besar dan Ganas di Luar Angkasa

Berdasarkan penelitian terbaru yang dipublikasikan oleh para ilmuwan, didapatkan fakta bahwa bakteri ternyata bisa tumbuh dan berkembang menjadi lebih besar dan ganas di tempat dengan gaya gravitasi mikro seperti di luar angkasa.

Pada misi Atlantis terdahulu, dilakukan sejumlah percobaan dengan membuat media koloni hidupnya bakteri (biofilm) untuk kemudian dilihat perkembangannya. Ternyata bakteri tumbuh menjadi lebih besar dan lebih tebal. Hal itu tentu sangat membahayakan bila sampai masuk ke dalam tubuh manusia.



Media untuk penelitian bakteri yg dibawa pesawat ulang alik Atlantis.
Image credit: plosone

"Bakteri tumbuh selama penerbangan luar angkasa dan memiliki lebih banyak sel-sel hidup, memiliki biomassa yang lebih banyak, dan juga lebih tebal daripada bakteri yang ada pada kondisi gravitasi normal," ungkap juru bicara NASA dalam sebuah jumpa pers.

Jenis bakteri yang diamati adalah Pseudomonas aeruginosa yang tumbuh cepat selama tiga hari dalam sebuah media urin buatan. Menurut NASA media urin buatan sangat cocok sebagai tempat koloni bakteri terbentuk, baik di dalam atau di luar tubuh manusia dan mengingat itu juga termasuk limbang di pesawat ulang allik, maka media urin buatan dipilih untuk mengatahui sejauh mana efeknya terhadap kesehatan astronot.


Sampel bakteri Pseudomonas aeruginosa. Image credit: google



Hasil penelitian. Image credit: plosone



Hasil penelitian. Image credit: plosone

Setiap media tempat tumbuh bakteri diberi membran selulosa dimana bakteri bisa tumbuh di sana. Metode yang sama juga telah diterapkan pada penelitian di Bumi.

"Ini masih dalam tahap awal penelitian dan memerlukan penelitian lebih lanjut lagi untuk mengetahui bagaimana gaya gravitasi mikro mempengaruhi pertumbuhan bakteri atau mikroorganisme lain," ungkap Cynthia Collins dari Rensselaer Polytechnic Institute.

"Sebelum kita mengirim astronot ke luar angkasa, kita harus meyakinkan dulu bahwa mereka telah disterilisasi dari bakteri dan mikroorganisme lain untuk mengurangi resiko mereka sebagai pembawa dan tempat tumbuhnya bakteri yang dapat menyebar ke astronot lain dan juga peralatan yang ada," tambah Collins.









Sumber :
UT, PS, Adi Saputro / www.astronomi.us

Senin, 30 September 2013

0 Mickey Mouse Dunia Nyata

Disney menggambarkan Mickey Mouse sebagai detektif pintar penyidik kejahatan. Ternyata di dunia nyata pun ada, mereka adalah: Tikus Pelacak!

Kalau selama ini kita hanya mengenal anjing pelacak, kepolisian Belanda merekrut tikus untuk mengendus kejahatan dan melakukan tugas forensik di balik gedung dengan jendela gelap. Tikus sengaja dikembangbiakkan untuk membantu investigasi polisi.
Tikus-tikus seharga 10 euro atau sekitar Rp 143 ribu ini dilatih dalam mengidentifikasi bau dari narkoba hingga bubuk senjata. Bandingkan dengan anjing pelacak yang berharga hingga puluhan ribu euro untuk pembelian dan pelatihan.

Memang sih, anjing yang selesai dilatih kemungkinan memiliki kemampuan yang lebih besar dari tikus. Namun waktu pelatihannya sama, tikus dan anjing  butuh waktu hingga delapan bulan. Rupanya, tikus-tikus ini belajar dengan cepat dalam gelap. Mereka membutuhkan hampir 10-15 hari untuk membedakan bau.

Polisi dalam proyek tersebut, Monique Hamerslag mengatakan tikus jantan lebih baik dalam pekerjaan detektif dibandingkan betina. "Semakin membosankan hidup tikus itu maka akan semakin baik. Ini pekerjaan detektif," ujar Hameslag.
Uniknya, semua tikus pelacak yang dilatih diberi nama seperti tokoh detektif dalam cerita fiktif seperti Derrick, Thomson dan Thompson, Magnum dan Poirot.

Kabarnya, kepolisian Belanda jadi pelopor penggunaan tikus pelacak seperti kata  kepala pusat inovasi polisi Belanda, Mark Wiebes, "Sepanjang yang saya tahu kami yang pertama di dunia yang melatih tikus untuk digunakan dalam investigasi polisi."

Selamat, deh Meneer. Ada bagusnya tikus dilatih membasmi kejahatan, jangan cuma jadi pencuri apalagi mencuri uang negara.







Sumber :
republika.